Oleh: Damsyir Karim,Redaksi Canangjambi.id
BANGKO – Pekan Budaya Jambi Elok Nian tahun ini menjadi panggung megah bagi ekspresi identitas Melayu Jambi. Namun, ada sesuatu yang berbeda dan mendalam ketika sorotan utama tertuju pada Kabupaten Merangin melalui tema atau kontribusi khusus bertajuk “Marajut Tuah Merawat Marwah Adat Merangin”. Sebuah frasa puitis yang bukan sekadar slogan, melainkan sebuah manifesto kebudayaan yang sarat makna filosofis.
“Marajut Tuah” dapat dimaknai sebagai upaya menyatukan benang-benang keberkahan, kearifan lokal, dan potensi sumber daya manusia serta alam yang dimiliki oleh masyarakat Merangin. Sementara “Merawat Marwah” adalah janji untuk menjaga kehormatan, harga diri, dan kemuliaan adat istiadat yang telah diwariskan leluhur. Dalam konteks Pekan Budaya Jambi, Merangin tidak hanya menampilkan tarian atau kuliner, tetapi untuk menegaskan posisi mereka sebagai penjaga gerbang budaya Melayu yang autentik.
LEBIH DARI SEKEDAR PERTUNJUKAN
Dalam Pegelaran Pekan Budaya Jambi Elok Nian kali ini, paviliun dan pertunjukan dari Merangin berhasil mencuri perhatian. Mulai dari keindahan motif batik khas Merangin yang setiap goresannya menceritakan sejarah Kabupaten Merangin, hingga alunan musik tradisional yang syahdu. Namun, esensi sesungguhnya terletak pada bagaimana para pemuda dan tetua adat Merangin berkolaborasi. Ini adalah bukti bahwa regenerasi budaya di Merangin sedang berjalan dengan baik. Tidak ada kesenjangan antara generasi tua yang memegang teguh adat dan generasi muda yang kreatif mengemasnya dalam bentuk modern.
Hal ini sejalan dengan visi pembangunan daerah yang tidak hanya mengejar infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur mental-spiritual berbasis kearifan lokal. Ketika seorang penari muda dari Merangin menarikan Tari Penjaga Tutur Lamo dengan penuh penghayatan, ia sedang melakukan aksi “merawat marwah”. Ia menunjukkan kepada dunia luar bahwa anak-anak Merangin bangga dengan jati dirinya.
TANTANGAN DI ERA DIGITAL
Meski sukses secara visual dan partisipatif, kita harus kritis melihat ke depan. Apakah “tuah” yang telah dirajut ini akan bertahan menghadapi gempuran budaya global dan disrupsi digital? Merawat marwah adat tidak bisa hanya dilakukan setahun sekali saat Pekan Budaya berlangsung. Ia membutuhkan konsistensi kebijakan daerah, kurikulum muatan lokal yang hidup di sekolah-sekolah, dan dukungan ekonomi kreatif bagi para pelaku seni.
Kabupaten Merangin, dengan kekayaan situs sejarah seperti Geopark,Batu Bertulis Karang Berahi dan tradisi lisan yang kuat, memiliki modal besar. Namun, tanpa dokumentasi digital yang masif dan pemasaran budaya yang cerdas, “marwah” tersebut hanya menjadi kenangan indah sesaat.
PENUTUP
Pekan Budaya Jambi Elok Nian dengan nuansa Merangin ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan di Merangin. Bahwa kebudayaan bukanlah beban masa lalu, melainkan kompas untuk masa depan.
Selamat kepada Kabupaten Merangin atas pergelaran gemilangnya. Semoga semangat “Marajut Tuah Merawat Marwah” tidak berhenti di arena pameran, tetapi terus bergema di setiap rumah, sekolah, dan ruang publik di Bumi Tali Undang Tambang Teliti. Mari kita jaga bersama, agar tuah negeri ini tetap subur dan marwah adat kita tetap mulia.***
