Editorial: Di Balik Senyum Penyambutan, Akankah Tim UNESCO Melihat Keruhnya Air Sungai Merangin?

Editorial: Di Balik Senyum Penyambutan, Akankah Tim UNESCO Melihat Keruhnya Air Sungai Merangin?

Oleh: Damsyir Karim.Pimpinan Redaksi Canangjambi

Canangjambi.id.BANGKO- Sejak 10 Agustus 2026, Kabupaten Merangin telah berubah wajah. Bendera-bendera berkibar, ucapan selamat datang menggema, dan senyuman ramah tersaji di setiap sudut Kota Bangko. Tim asesor dari UNESCO Global Geopark (UGGp) telah tiba untuk melakukan revalidasi status geopark kita. Semua tampak sempurna, tertata, dan siap untuk dinilai. Namun, di balik kemewahan penyambutan tersebut, ada pertanyaan besar yang menggantung di udara: Akankah mata para penilai itu terbuka lebar melihat pekatnya air sungai di sepanjang lokasi geopark akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI)?

Kita tidak bisa menutupi fakta bahwa Sungai Batang Merangin dan anak-anak sungainya di kawasan inti geopark, seperti di Teluk Gedang dan Air Batu, masih mengalami pencemaran berat. Air yang seharusnya jernih dan menjadi daya tarik wisata kini kerap berubah keruh kecokelatan, bahkan kehitaman, akibat lumpur dan merkuri dari aktivitas penambangan ilegal. Ini bukan sekadar isu estetika; ini adalah krisis ekologi yang mengancam nyawa ekosistem dan kesehatan warga.

Tim UNESCO dikenal sangat teliti. Mereka tidak hanya duduk di ruang rapat mendengarkan presentasi data yang “dipoles”. Mereka turun ke lapangan, berbicara dengan masyarakat lokal, dan mengamati langsung kondisi geosites. Jika mereka menyusuri aliran sungai dan menemukan bukti visual kerusakan lingkungan yang masif, maka narasi indah tentang konservasi dan pembangunan berkelanjutan yang kita gembor-gemborkan akan runtuh seketika.

Pemerintah Daerah melalui Badan Pengelola Geopark Merangin (BPGM) tentu telah berusaha keras melakukan pembersihan dan penertiban menjelang kedatangan tamu agung ini. Operasi gabungan polisi, TNI, dan dinas terkait gencar dilakukan. Namun, apakah ini solusi jangka panjang atau hanya “bersih-bersih rumah” sesaat? Masyarakat bertanya-tanya, mengapa PETI baru ditertibkan secara serius ketika ada penilaian internasional? Apakah selama ini pengawasan longgar karena alasan tertentu?

Kehadiran tim penilai seharusnya menjadi momen introspeksi, bukan sekadar panggung sandiwara. Jika gelar UGGp Merangin dipertahankan sementara kondisi lapangan masih memprihatinkan, maka integritas kita sebagai pengelola geopark dipertanyakan. Sebaliknya, jika kita jujur mengakui tantangan ini dan menunjukkan komitmen nyata dalam pemberantasan PETI—bukan hanya saat ada tamu—mungkin dunia akan lebih menghargai usaha kita.

Kita semua berharap tim penilai UNESCO memiliki kejelian untuk melihat realitas di balik tirai kemegahan acara. Mereka harus melihat bahwa di balik upaya konservasi fosil flora Jambi berusia 296 juta tahun, ada perjuangan berat melawan keserakahan yang merusak masa depan.

Jangan biarkan air sungai yang pekat itu menjadi noda hitam yang menghapus semua prestasi Merangin. Bersihkanlah hulu sumber masalahnya, bukan hanya buih di permukaannya. Karena pada akhirnya, kejujuran dalam menjaga alam jauh lebih berharga daripada sebuah sertifikat yang diraih dengan cara menutup-nutupi kenyataan.***

News Update